Majalah dan Sapi

Anonim (sementara)

Mon, 2 July 2001

TIDAK banyak wartawan yang bisa melihat sapi dari ruang kerjanya. Degung Santikarma dari majalah Latitudes termasuk yang sedikit itu.

TIDAK banyak wartawan yang bisa melihat sapi dari ruang kerjanya. Degung Santikarma dari majalah Latitudes termasuk yang sedikit itu. Kantornya terletak di pinggiran kota Denpasar, dekat sawah, dan ada saja sapi-sapi Bali, yang warnanya coklat, mungil, cantik, merumput di depan kantor Latitudes.

Melihat sapi seraya menerbitkan majalah bulanan yang aduhai adalah suatu prestasi tersendiri. Februari 2001 lalu Degung memang meluncurkan Latitudes, majalah berbahasa Inggris, majalah yang boleh dibilang agak lain dari kebanyakan majalah Indonesia.

Warnanya aneka ragam, hitam jadi latar, garis naik turun, judul dengan huruf ekstra besar, foto hitam-putih mencolok diselingi sajian esais terkemuka macam Ariel Heryanto, Ayu Utami, Goenawan Mohamad, atau Seno Gumira Ajidarma. Majalah ini bukan jurnal ilmiah tapi juga bukan majalah berita.

Latitudes bukan satu-satunya.

Jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto memberi kesempatan bagi orang macam Degung membuat majalah dengan desain yang berani tampil beda.

Tapi harus diingat, desain tak pernah jalan sendiri. Desain dan isi selalu paralel. Majalah-majalah ini, pada gilirannya, memang tidak bisa dan tidak mau mengusung isi majalah macam Tempo, Femina, atau Hai. Mereka mencoba memunculkan isi, biasanya soal kebudayaan, dalam sudut pandang yang segar.

Gustaff H. Iskandar, salah satu wartawan majalah Trolley dari Bandung, menyatakan majalahnya yang berbasis art culture diluncurkan lantaran “kejenuhan terhadap berita-berita politik dan gosip serta gemerlapnya dunia selebritis.”

Trolley terbit sejak November 2000. Sasarannya orang yang suka seni rupa. Menurut Iskandar, Trolley berusaha menampilkan desain yang baru dalam setiap edisi untuk menghindari kejenuhan sekaligus menunjukkan tingginya kreativitas para perupa dan fotografer majalah itu.

Daniel Ziv dari Djakarta menginginkan bulanannya jadi “majalah kehidupan kota.” Isi Djakarta memang melulu soal kota Jakarta, kota dengan penduduk lebih dari 10 juta orang ini, dari kriminalitas sampai hiburan, dari budaya sampai sejarah kota, disertai jadwal pertunjukan seni serta tempat makan.

Makanan memang andalan Djakarta. Mereka mengklaim liputan mereka, tak seperti kebanyakan media, dibuat dengan mewajibkan reporternya membayar apa saja yang mereka makan dan minum. Tujuannya menampilkan liputan yang independen, mulai dari nasi campur hingga ayam Hainan, dari warung tenda hingga restoran mengkilap. Wartawan mereka dilarang menerima makan gratis apalagi … amplop.

S. Prinka, redaktur senior Tempo, memuji desain Djakarta. “Ada pembaruan, itu sudah bagus, cukup manis, walau nggak perlu disebut avant garde,” kata Prinka.

Prinka salah satu redaktur desain senior di Indonesia. Dia mengatakan belum pernah melihat Trolley walau sudah mendengar namanya di kalangan orang seni rupa.

Prinka menyukai Djakarta karena permainan foto dan pemakaian huruf yang menyegarkan untuk ukuran Indonesia, “Itu upaya pembaruan.”

Pembaruan yang dilakukan Latitudes, Djakarta, atau Trolley, memang layak dipuji. Greget pembaruan mereka oleh sebagian kalangan dianggap sebagai bentuk “perlawanan” meniru semangat gerakan avant garde ala Andy Warhol di Amerika Serikat pada 1960-an. Walaupun, belum sebesar greget majalah musik The Rolling Stone waktu pertama kali keluar pada 1960-an maupun majalah komputer Wire pada 1990-an.

Ada berita bagus. Walaupun harga majalah-majalah ini cukup mahal, Latitude dijual Rp 20 ribu, Djakarta Rp 17.500, dan Trolley Rp 13.500, jumlah pembaca mereka cenderung meningkat. Trolley mencetak 5.000 eksemplar pada tiga edisi awalnya. Kini oplahnya meningkat jadi 7.000, dan rencana naik 10 ribu pada edisi ke lima. Djakarta menghabiskan 15 ribu eksemplar edisi perdana, naik jadi 25 ribu pada edisi berikutnya. Sedangkan Latitudes bertahan pada angka 5.000 dengan jangkauan penjualan di Denpasar, Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Australia.

Sasaran pembaca Latitudes adalah “frequent visitor” ke Indonesia, turis yang tidak hanya butuh romantisme Indonesia tapi juga kebudayaan, politik, dan persoalan-persoalannya. Mereka mendapatkan iklan dari industri pariwisata, yang sangat besar peranannya di Bali, tapi juga hendak bersikap independen terhadap pengelola hotel, spa, dan tempat hiburan lain.

Djakarta dan Trolley juga menggariskan sikap jelas terhadap iklan. Daniel Ziv tak mau menerima banyak iklan, “Loyalitas kami kepada pembaca, bukan kepada pemasang iklan.”

“Sebenarnya masih butuh banyak iklan untuk menghidupi Trolley tetapi itu harus disesuaikan dengan space yang ada,” kata Iskandar.

Djakarta tidak pernah lepas untuk mengajak pembacanya berdiskusi tentang bagaimana hidup dalam lingkungan urban, “Jadi benar-benar berbicara tentang kita sendiri, bukan tentang sesuatu yang jauh dari kehidupan kita,” jelas Ziv, pemuda kelahiran Kanada, yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Sedangkan Trolley, selalu mengangkat tema kehidupan budaya pop. “Kami berusaha menggulirkan informasi terbaru tentang musik, perkembangan seni rupa, dan kehidupan masyarakat urban,” jelas Gustaff.

Menariknya lagi, ketiganya tidak didirikan oleh perusahaan besar. “Tidak ada pembaruan muncul dari perusahaan besar,” kata Degung Santikarma. Seniman Bali yang menyelesaikan kuliahnya di Australia dan seorang kandidat Ph.D di sebuah univesitas Amerika ini mengeluarkan dana Rp 750 juta dari kantong keluarga untuk Latitudes.

Sementara itu Trolley milik sekelompok anak muda yang bermodal Rp 20 juta. Sampai sekarang mereka tidak memiliki investor dari luar komunitasnya. Sedang Djakarta memiliki dua investor, Mohamed Idwan Ganie, seorang pengacara, dan pengusaha tekstil Satish Lachman Mahtani.

“Saya selalu ingin menampilkan sesuatu yang baru, yang lebih kontroversial, yang lebih berani lagi, dan lebih avant garde lagi,” kata Ziv, menjelaskan obsesinya.

Berhasil atau tidak, yang jelas orang-orang ini bekerja keras memajukan majalahnya. Degung bahkan naik sepeda motor keliling Jakarta untuk menjajakan Latitudes. Dia menginap di rumah saudaranya, dan di Jakarta jelas tak ada sapi yang bisa dilihatnya.*

kembali keatas

by: