BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
In House Training Radar Timika
Tue, 1 August 2006

Ini cerita kecil lagi tentang kegiatan Yayasan Pantau. Sejak November lalu, kami melakukan program pendampingan untuk harian Radar Timika dan membuat beberapa diskusi kecil tentang jurnalisme, iklan dan penulisan di Hotel Sheraton Timika.

Ini cerita kecil lagi tentang kegiatan Yayasan Pantau. Sejak November lalu, kami melakukan program pendampingan untuk harian Radar Timika dan membuat beberapa diskusi kecil tentang jurnalisme, iklan dan penulisan di Hotel Sheraton Timika. Diskusi-diskusi ini terbuka untuk diikuti wartawan, guru, pekerja sosial maupun karyawan PT Freeport Indonesia --perusahaan tambang raksasa yang mempengaruhi hampir 100 persen ekonomi Timika.

Agus Sopian, wakil ketua Yayasan Pantau, menjadi redaktur tamu Radar Timika selama tiga minggu. Ia tinggal di Hotel Serayu, di daerah downtown Timika, bekerja bersama redaksi Radar Timika dan mencoba membantu mengembangkan suratkabar tersebut. Ia memperkenalkan konsep byline, feature, firewall dan sebagainya. Ia membantu editing. Ia sering tinggal di kantor hingga Radar Timika naik cetak pukul 03:00. Ini artinya pukul 01:00 di Jawa.

Mereka menunggu kiriman berita dari Jawa Pos News Network dari Surabaya atau Jakarta yang terletak di Pulau Jawa. Artinya, kedatangan berita dua jam lebih lambat dari time zone Papua.

Sopian juga mengajak RTS Masli (mantan ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), Murizal Hamzah (wartawan Aceh), Budi Setiyono (sekretaris Yayasan Pantau) dan saya untuk bicara dalam diskusi-diskusi tersebut selama tiga akhir pekan.

Eva Danayanti membantu pengaturan acara. Eva cukup sibuk belakangan ini. Dari Timika ia hanya mampir Jakarta sebentar untuk terbang ke Banda Aceh, membantu pendirian kantor Pantau di Banda Aceh.

Acaranya bagus-bagus. Dalam laporan evaluasi peserta, para peserta mengatakan mereka mendapat manfaat dari acara-acara kami. Baik dengan Murizal (liputan pertikaian), Masli (periklanan), Sopian dan saya. Murizal dan Budi juga membantu seminggu-seminggu di Radar Timika. Murizal sempat melihat Grasberg, lokasi pertambangan Freeport, namun Budi sempat sakit demam.

Kami mencoba membantu semua rekan kami yang harus meninggalkan homebase mereka agar merasa nyaman bekerja di tempat jauh. Sopian punya anak dan isteri di Bandung. Budi dan Murizal memang tak punya istri, cuma tinggal seminggu.

Sopian, seorang wartawan yang kepribadiannya menyenangkan. Ia suka bergurau, suka memancing dan ada-ada saja kegiatan uniknya. Saya kira salah satu kunci program ini adalah kemampuan dan kemauan Sopian memahami orang lain. Ia mau mendengar. Ia juga rajin menulis kolom dan feature untuk Radar Timika. Sopian usul program ini dikembangkan lagi dengan beberapa kegiatan lain tahun depan.

Timika sendiri penduduknya sekitar 50,000. Ini murni kota tambang. Sekitar 20 menit naik mobil, Anda bisa mengunjungi Kuala Kencana, kota Freeport, dengan penduduk sekitar 3,000 orang. Ia mirip Singapura. Sangat teratur, sangat bersih dan sangat kaya. Cuma ukurannya sebuah distrik saja.

Ada dua harian disini. Radar Timika anak perusahan Kelompok Jawa Pos. Timika Pos milik dua orang pengusaha Timika, Vinsentius Hendra dan Frits Bogar. Belakangan Timika Pos lagi berantem.

Bogar dan wartawan disana sepakat memecat Julius Lopo, pemimpin redaksi Timika Pos. Lopo mantan wartawan Pos Kupang. Ia memimpin Timika Pos sejak didirikan Jaringan Pers Daerah dari Kelompok Kompas Gramedia pada 2000. Namun KKG menjual Timika Pos kepada Bogar dan Hendra pada Juni 2003. Mungkin pertikaian ini yang membuat Pantau tak bisa ikut masuk kesana. Namanya juga lagi berantem!

Octovianus Danunan, pemimpin umum Radar Timika, mengatakan kedatangan Pantau ke suratkabarnya membawa "reformasi pemikiran" di sana. Radar mulai memakai firewall dan byline. Danunan juga mendorong wartawannya menulis feature serta mendorong tenaga pemasaran membuat iklan baris. Mereka akan menciptakan kolom op-ed dan surat pembaca bulan depan.

Kedatangan RTS Masli juga menambah semangat berbisnis suratkabar di Timika. Masli pembicara yang baik. Ia membawa macam-macam gambar iklan, angka-angka serta video. Masli mengatakan ia senang berada di Timika. Ia juga tertarik untuk ikut program lanjutan Pantau di Timika.

Hotel Sheraton Timika sendiri juga mengagumkan. Ia dibangun dengan dikelilingi hutan. Pohon-pohon dibiarkan tak ditebang. Saya juga terkagum-kagum dengan berbagai ukiran kayu raksasa dari para seniman Kamoro. Tingginya ada yang tiga meter, dibuat dari sebuah kayu utuh. Sheraton Timika adalah hotel bintang lima milik PT Freeport Indonesia.

Perusahaan tambang ini juga jadi sponsor program Pantau. Santi Sari Esayanti dan Diana Yultiara dari Freeport kantor Jakarta bersama rekan-rekan mereka lainnya ikut sibuk mengurus acara ini. Ans Gregory da Iry, kepala urusan komunikasi Freeport di Timika, mengajak kami makan siang.

Da Iry juga sempat jadi moderator sebuah sesi yang saya bicara. Ia sebuah acara bedah buku "Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat." Saya suka bicara soal buku ini. Saya dan Budi menyuntingnya bersama-sama. Ini sudah ketiga kalinya saya bicara soal buku ini --sesudah Ambon dan Jakarta. Perlahan-lahan ternyata buku kecil ini mulai mempengaruhi orang.

Murizal Hamzah mengatakan ia merasa beruntung bisa ikut acara begini. Ia belajar banyak soal Aceh dengan melihat Papua. Saya kira Murizal benar. Kita sering bisa belajar lebih banyak tentang diri kita dengan bercermin pada orang lain. -- Andreas Harsono

kembali keatas
Kursus Narasi XVII
FacebookTwitter