BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Belajar dari Hidup Rosidi
Imam Shofwan
Fri, 11 November 2016

Rosidi muda adalah bintang sepakbola dan tonil di Cikawung hingga prahara 65 merenggut masa terbaik dari hidupnya

Cerita Hidup Rosidi karya terbaru Tosca Santoso masuk jenis buku yang sekali anda buka, anda tak akan berhenti hingga laman terakhir. Ukuran kecil seperti buku Hiroshima John Hersey versi Indonesia terbitan Kobam, cuma sedikit lebih tebal. Kesamaan lain, keduanya karya jurnalistik bermutu dan bercerita tentang korban tragedi kemanusiaan. Hiroshima cerita soal korban bom atom dan Rosidi cerita korban tragedi 1965.

Ceritanya seturut alur hidup Rosidi, seorang petani kecil dari Cikawung, Cianjur, yang menggantikan pamannya menjadi pesakitan politik 1965. Rosidi muda adalah bintang sepakbola di kampungnya dan pernah dijuluki Arjuna dari Cikawung. Namun nasibnya beda dengan Arjuna di cerita wayang. Tiga belas tahun ia menjalani kehidupan pahit di penjara tanpa pengadilan. Berpindah dari satu penjara ke penjara lain hingga menjalani kerja paksa dari mencari pasir hingga pemecah batu.

Akses seluas-luasnya terhadap narasumber adalah sumber kuatnya deskripsi di buku ini. Tosca begitu dekat dengan narasumber dan ia tahu saat yang tepat untuk menggali informasi melalui kebiasaan hidup narasumber. Kebiasaan narasumber bersilaturahmi saat hari besar keagamaan atau perayakan siklus hidup seperti perkawinan, adalah salah satu yang dimanfaatkan Tosca. Dari napaktilas tempat penangkapan Rosidi banyak cerita keluar dan di sana sini dapat penguatan keterangan dari anak-anaknya yang juga menyaksikan hari paling kelam dalam hidup Rosidi ini.

Selain di rumah penangkapan, dengan sabar Toska mengikuti napaktilas Rosidi ke tempat-tempat paling membekas dalam hati Rosidi: mengunjungi makam paman yang digantikannya masuk penjara, bekas-bekas penjara, tempat ia mencari kodok, hutan tempat Rosidi menebang rasamala, hingga ke sungai-sungai tempat ia menambang pasir dan batu.

Dari tempat-tempat itu cerita Rosini keluar semua, tak hanya cerita namun pertemuan Rosidi dengan orang-orang yang pernah ia jumpai di tiap potongan hidup Rosidi menguatkan fakta cerita di buku ini juga membumbui buku ini dengan cerita-cerita humor masa lalu atau sepanjang perjalanan.

Salah satu yang paling kuat adalah ketika Rosidi sekeluarga berkunjung ke sepupu perempuan Oneh, istri terakhir Rosidi. Setelah sekian lama Rosidi baru bisa menyampaikan kabar duka meninggalnya Oneh padanya. Ada duka di sana namun setelah sekian lama ngobrol tiba-tiba Rosidi menagih hadiah yang puluhan tahun lalu dijanjikan oleh suami sepupunya padanya. Rupanya Rosidi adalah mak comblang perkawinan mereka dan Sang Suami segera masuk kamar dan membawakan sarung baru. “Utang lunas,” katanya disambut tawa semua yang melihatnya.

Santoso tak hanya pandai menggali informasi namun dia juga pandai memberi kontek dalam buku ini. Ia menjawab pertanyaan kenapa di tanah Pasundan pembantaian 65 tak semasif di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumut. Semua karena jasa Ibrahim Ajie, pangdam Siliwangi, ia mendatangi Suharto dan meminta supaya RPKAD untuk tak masuk Jawa Barat.

Ia juga cerita soal keteguhan hati Oneh, istri Rosidi. Saat Rosidi ditahan Oneh didesak keluarga untuk tidak mencarinya dan mencari suami baru. Namun ia memilih setia. Ia mencarinya dan meski bukan tahanan ia mendampingi masa-masa sulit suaminya di penjara. Saat suaminya tak produktif, karena semua hasil keringatnya diminta petugas penjara atau hal lain, ia tak segan mencari jamur hutan agar ada yg disuapkan ke mulut anak-anaknya yg kelaparan. Oneh membangkitkan lagi ingatan saya pada pengorbanan Ibunda, satu novel Maxim Gorky. Oneh memotong rambutnya yang indah berapa kali dan menjualnya untuk beli beras agar anaknya tak kelaparan. Yang tak kalah mengharukan beberapa anaknya lahir di penjara.

Semalaman saya baca buku ini dan perasaan saya betul-betul diaduk-aduk. Perasaan serupa saat baca kesulitan hidup orang-orang kecil di novel-novel Dostoevsky atau John Steinback. Bedanya karya Toska bukan khayalan penulis, ia didasarkan interview mendalam narasumber-narasumbernya. Bagian tertentu saya kalut, saat anak Rosidi membentur-benturkan kepalanya ke dinding karena tak ada nasi untuk disuapkan. Ada bagian-bagian yang membuat kagum, utamanya, bagaimana kebesaran hati Rosidi memaafkan perwira penahanannya.

Ini adegan saat Rosidi mengunjungi Dadang Mulyadi, mantan komandan kamp Panembong, salah satu tempat tahanan Rosidi, saat sakit.

“Mang Idi (Rosidi) jangan dendam sama saya,” kata Dadang.

“Ah, tidak Bapak kan hanya jalankan tugas,” kata Rosidi.

“Saya minta dimaafkan,” lanjut Dadang.

“Sudah, Pak.”

Ia juga tak menyesal menggantikan pamannya. Untuk gambaran, saya cuplikkan sedikit ucapan Rosidi ketika mengunjungi makam pamannya Ocon, orang yang digantikannya masuk penjara, “Kalau waktu itu Mang Ocon yang ditangkap, pasti akan lebih berat. Dia sudah tua. Kasian dipaksa kerja macam-macam. Saya masih muda, lebih kuat bekerja.”

Yang anti poligami mungkin bakal tak suka karena tokoh Rosidi kawin dengan banyak perempuan dan Rosidi menjalin hubungan baik dengan perempuan-perempuan yang pernah dinikainya sejauh dia bisa. Kelemahan lain, ada pengulangan beberapa bagian yang mengganggu. Selebihnya kita berharap efek buku ini bisa sedahsyat buku Hiroshima yang mempu membangkitkan gerakan anti nuklir di bumi.

kembali keatas
Kursus Narasi XVII
FacebookTwitter