BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
BLUR: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi
Sylvie Tanaga
Wed, 17 September 2014

Dengan memakai istilah “kemelekan berita” yang kami artikan sebagai kecakapan untuk tahu cara “membaca” berita – disiplin berpengetahuan skeptis, kami berharap ide di buku ini membantu menginformasikan upaya semacam itu.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, 2010

Judul                :   BLUR: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi
Judul Asli       :   BLUR: How To Know What’s True In The Age of Information Overload
Penulis             :   Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Penerjemah   :   Imam Shofwan dan Arif Gunawan Sulistiyono
Supervisor     :   Andreas Harsono dan Budi Setiyono
Penerbit          :   Dewan Pers (dikerjakan bersama Yayasan Pantau)
Cetakan           :   I, November 2012
Tebal Buku     :   vii + 225 halaman

 

Pada era media digital, informasi membanjir deras dari segala sudut. Media konvensional seperti koran, majalah, radio, dan bahkan televisi tak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Jurnalisme lama pun tergeser oleh kehadiran jurnalisme masa kini dengan karakter yang serba cepat dalam mengejar informasi di lapangan. Pertanyaan pun kemudian muncul: apakah kualitas isi yang disampaikan jurnalisme baru tetap terjamin baik? Bagaimana cara memeriksanya?

Buku ini menjawab berbagai pertanyaan tersebut dari berbagai sisi jurnalistik: fakta, sumber, kelengkapan, dan sebagainya dengan cara yang sangat menarik. Tanpa “basa-basi” teori-teori jurnalistik yang membosankan, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel membawa berbagai contoh kasus sebagai pengantar pembahasan, membuat kita langsung memahami pokok persoalan.

Terdiri dari delapan bab, Kovach dan Rosenstiel memandu kita untuk mengetahui bagaimana mengetahui mana yang bisa dipercaya, bagaimana mengasah keterampilan verifikasi dengan menggunakan cara berpengetahuan skeptis, memeriksa asal sumber, bukti dan jurnalisme verifikasi, bukti pernyataan dan penegasan, bagaimana menemukan hal yang terpenting, dan ditutup dengan pembahasan atas pertanyaan “apa yang kita butuhkan dari jurnalisme era baru?”

Kovach dan Rosenstiel membuka buku ini dengan pernyataan menarik yaitu bahwa problem jurnalistik lama lebih pada hilangnya pendapatan karena teknologi, dan bukan hilangnya audiens. Dan perubahan terbesar dari jurnalisme masa kini adalah bahwa porsi tanggung jawab untuk tahu yang benar dan yang tidak, kini berada di tangan kita sebagai individu. Oleh karenanya, kita perlu pola pikir skeptis (skeptical knowing) agar tidak menelan seluruh isi berita mentah-mentah.

Berangkat dari sudut pandang ini, pada lembar-lembar berikutnya Kovach dan Rosenstiel mengajak kita belajar mengasah keterampilan verifikasi dan cara berpengetahuan skeptis, langkah demi langkah. Untuk mempermudah, mereka melakukan klasifikasi terhadap aneka jenis model berita yaitu jurnalisme verifikasi, jurnalisme pernyataan, jurnalisme pengukuhan, jurnalisme kaum kepentingan, jurnalisme agregasi, blog dan media sosial serta hibrida baru.

Selanjutnya, kita diajak mencermati isi berita dengan menggunakan aneka instrumen dengan satu tujuan: lebih jeli menilai sebuah berita. Pemeriksaan berulang pada bukti dan sumber dengan pikiran yang terbuka adalah kunci bagi awak media untuk menghasilkan karya jurnalistik berkualitas sekaligus kunci bagi konsumen untuk mengetahui mana berita yang bisa dipercaya.

Kovach dan Rosenstiel berulang kali menyodorkan contoh berita yang menjadi bahan kajian atau bahan menarik untuk kita pelajari. Keduanya juga menawarkan contoh-contoh pertanyaan yang dapat kita ajukan untuk melakukan pengujian apakah sebuah berita dapat dipercaya, termasuk jenis jurnalisme mana berita tersebut, dan apakah berita tersebut memang kita perlukan.

Sebagai pakar jurnalistik yang teruji, tak heran jika Kovach dan Rosenstiel berhasil menerobos kesadaran kita akan sajian media yang berkualitas di tengah banjir informasi era modern yang lebih menuntut kecepatan mendapatkan dan menyampaikan informasi daripada memeriksa ulang fakta-fakta secara teliti, lapis demi lapis.

BLUR benar-benar merangsang kita “melek” berita, mengasah kecakapan dalam menganalisis isi suatu berita sehingga tidak terjebak oleh pemberitaan yang keliru karena minimnya verifikasi. Oleh karenanya, jelas bahwa buku ini tidak secara spesifik ditujukan bagi wartawan atau pemilik media saja melainkan bagi masyarakat luas. Kita semua harus “melek” berita.

BLUR ditutup dengan manis dengan kesimpulan dan prediksi (atau harapan) kedua penulisnya bahwa jurnalisme baru datang dari mereka yang paham teknologi tapi juga setia pada nilai lama, nilai-nilai yang mengedepankan prinsip-prinsip jurnalisme profesional seperti kesetiaan pada kebenaran, disiplin verifikasi, loyalitas pada warga, dan seterusnya yang menjadi intisari buku pertama mereka: The Elements of Journalism.

Bagi insan pers termasuk aktor jurnalisme warga, buku ini menjadi pendobrak pola pikir Anda dalam menyampaikan berita berkualitas. Bagi konsumen, BLUR adalah manual book wajib untuk mendapat asupan berita yang bergizi.***

kembali keatas
Kursus Narasi XVII
FacebookTwitter