BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Abu Kari dari Pining
Win Ruhdi Bathin
Mon, 30 June 2008

Dia mencintai alam sejak muda. Dia mengajak warga Pining menjaga kelestarian sungai dan hutan mereka. Pejabat yang dianggapnya merusak lingkungan pun dikritiknya.

PADA 31 Mei 2008, 20 mobil jip jenis Jimny datang ke Pining. Penumpangnya terdiri dari wakil kepala polisi Gayo Lues dan para polisi yang ingin bertamasya melepas penat di tepi sungai di kawasan Pining.

Selain itu mereka juga memotong kambing dan mengundang makan sejumlah warga Pining, pejabat kecamatan, dan mantan komandan kombatan Gerakan Aceh Merdeka di Gayo Lues.

Abu Kari datang ke kawasan sungai itu dengan menumpang mobil dinas kepala kepolisian sektor Pining. Begitu tiba di tempat, dia kaget dan marah. Dia melihat di salah satu mobil rombongan terdapat alat setrum listrik untuk menangkap ikan.

"Kalian yang seharusnya menjadi contoh malah ikut merusak lingkungan," katanya, dengan suara bergetar. Semua orang yang berada di sekelilingnya terdiam.

Abu Kari langsung mengeluarkan kamera digital dan memotret apa yang dilihatnya. Kamera itu pemberian Badan Pelaksana Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), sebuah lembaga yang dibentuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Beberapa orang melarangnya memotret, tapi Abu Kari tak peduli.

Setelah itu, dia bersitegang dengan polisi-polisi tersebut. Akhirnya Abu Kari langsung pulang dengan berjalan kaki. Tapi salah satu mobil kemudian meluncur ke arahnya dan si pengemudi mengantarnya pulang.

Lantas apa yang membuat Abu Kari begitu mencintai lingkungan?

"Kalau kita dengar bahasa kayu, kita tidak akan berani menebangnya. Begitu sinso dibawa ke sana, kayu akan menangis seraya berucap, jangan aku ditebang agar selamat anak cucumu. Karena tanah yang aku duduki, tanpa aku akan lari kebawah, longsor," kata Abu Kari, sambil meneruskan, “Setelah kayu ditebang, bahasanya tidak terdengar lagi. Maka menangislah ranting yang juga minta dibawa oleh sang penebang kayu karena menurut ranting, dia bisa memasakkan nasi penebang. Daun pun minta dibawa karena mampu menyuburkan tanaman.”

"Karena di jaman Nabi Sulaiman, kayu dan batu serta binatang dapat berbicara," kata Abu Kari lagi.

Abu Kari lebih dikenal dengan sebutan Aman Jarum. Dia bertubuh kekar, tinggi besar. Kulit putih. Kumis tebal menutupi bibir atasnya. Sepintas orang akan menduga Abu Kari keturunan Arab atau pria Ambon. Matanya tajam dan merah. Tapi dia asli Pining. Dia kelahiran Pintu Rime, salah satu kampung di kecamatan Pining yang berbatasan langsung dengan hutan yang masih hijau dan setiap pagi disalami awan. Di kartu penduduknya, Abu Kari kelahiran tahun 1957.

Sejak muda, dia sudah keluar masuk hutan Pining dengan seorang pawang hutan yang bernama Gusnar Efendi. Bersama Gusnar, Abu Kari berhasil memetakan dan mengetahui berbagai lokasi tambang, air terjun, habitat hewan langka yang dilindungi, dan anggrek yang tumbuh di hutan Pining.

Sepak terjang Abu Kari menjadi relawan yang menyelamatkan ekosistem tempat tinggalnya, Pining, dan sekitarnya sudah teruji waktu. Dan Abu Kari masih setia pada tindakannya itu, meski dia harus bertaruh nyawa. Siapa saja yang merusak hutan dan sungai akan ditentangnya.


KAMPUNG–kampung di Pining berada di sepanjang aliran sungai Pining. Sungai ini mengaliri sawah-sawah penduduk Pining. Racun dan setrum listrik tidak boleh digunakan untuk menangkap ikan, kecuali alat tradisional seperti pancing dan jala. Kalau ada orang yang melanggarnya, warga akan menyampaikan hal itu pada Abu Kari.

"Allah sudah menciptakan alam ini. Sekarang tinggal tugas kita untuk memeliharanya dan menyelamatkannya. Kita tidak pernah tahu berapa lama kontrak dunia ini. Jika kita tahu kita bisa memakai sumber daya alam sesuka kita demi meraup keuntungan. Tapi yang pakai alam ini bukan hanya kita. Masih ada anak cucu. Kalau alam rusak, apa yang nanti kita berikan pada mereka selain bencana,” katanya, sambil menyedot rokok kreteknya dalam-dalam.

Kepedulian Abu Kari pada lingkungan dibenarkan Ely Agustin, istri ketiganya. Ely mendukung semua kegiatan suaminya, meski tidak menghasilkan uang.

Ely mengenal Abu Kari di Kuala Simpang tahun 1989. Dua tahun kemudian mereka menikah. Ketika itu Abu Kari menguasai terminal dari Kuala Simpang sampai Langsa.

Setelah menikah, mereka berdua tinggal di Aceh Tamiang dan Langsa selama enam tahun.

Ely punya banyak keterampilan. Dia pandai menjahit, merias wajah, dan memasak.

Saat tinggal di Tamiang, Abu Kari sering meninggalkan Ely untuk menengok kampung halamannya di Pining.

"Terkadang sampai satu bulan setengah di Pining," kata Ely, yang kini tinggal di kampung Pertik, Pining, di sebuah rumah sangat sederhana tanpa ruang tamu dan tempat tidur.

"Setiap pulang ke Tamiang, Pak Jarum (Aman Jarum, nama panggilan Abu Kari) selalu cerita tentang kerusakan alam di Pining. Seperti orang yang memelihara kerbau untuk menarik kayu dari hutan atau orang yang mengambil ikan dari sungai dengan cara diracun atau disetrum. Pak Jarum sangat sedih melihat anak-anak ikan ikut mati karena diracun dan disestrum," tutur Ely.

Pada 1996, Abu Kari membawa Ely ke Pining.

"Saat itu belum ada listrik," kata Ely, yang sering disapa “Pin” oleh sang suami.

Ely kemudian berjualan nasi, lontong dan pecel untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama di Pining, Abu Kari banyak menerima tawaran untuk menebang kayu dan menjual kayu tebangannya. Namun, Abu Kari selalu menolak.

Siapa pun yang coba menebang pohon di hutan akan didatangi Abu Kari untuk menghentikan usaha penebangan itu. Begitu juga dengan mereka yang menggunakan setrum listrik.

"Banyak orang yang melanggar larangan menangkap ikan kemudian didenda dengan uang. Uangnya dibelikan Pak Jarum ikan mas kemudian dilepas lagi ke sungai Pining,” ujar Ely.

Dampaknya tak selalu baik. Seringkali Ely mendengar gunjingan ibu-ibu yang suaminya didenda karena menyetrum ikan, yang mengatakan bahwa Abu Kari cemburu pada mereka karena dia tidak mampu membeli genset untuk alat setrum. Tapi Ely diam saja. Dia juga tak menceritakan isi gunjingan tersebut kepada Abu Kari.

Selama mendampingi suaminya, Ely menemukan sifat tegas dan peduli dalam diri Abu Kari.

"Pak Jarum tidak suka membicarakan orang lain. Dia sangat peduli pada anak yatim dan orang tua. Jika lebaran tiba, Aman Jarum akan membeli daging semampunya yang kemudian dibagikan pada anak yatim dan para orang tua di kampung," katanya.

Berapapun uang yang dimilikinya, Abu Kari akan menghabiskannya bersama warga. "Sangat jarang Pak Jarum memberikan uang pada saya. Kalaupun ada, jika ada keperluan, Pak Jarum akan memintanya lagi, “ ujar Ely yang selalu menyediakan uang hasil berjualannya untuk keperluan sang suami.

Suatu saat Ely pernah meminta Abu Kari membelikan televisi dan kulkas untuknya. "Yah, orang nggak makan tapi kamu makan buah dingin," jawabnya kepada sang istri.



MESKI sudah setengah abad usianya, kondisi fisik Abu Kari masih prima. Saat diminta sebuah tim dari BPKEL untuk melakukan ekspedisi ke Lesten, sebuah kampung di hutan Pining, dia dengan sigap menyatakan siap. Fauzan Azima, ketua BPKEL, meminta Abu Kari jadi pemandu. Sebelum Perjanjian Damai ditandatangani pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Fauzan memimpin gerilyawan GAM di Aceh Tengah.

Perjalanan ke Lesten tidak dekat, sekitar 22 kilometer dari Pining.

"Kalau diajak ke kota, mungkin saya masih berpikir. Tapi kalau diajak ke hutan dari kemarin saya sudah mau," katanya, seraya tersenyum.

Tujuan ekspedisi ke Lesten adalah untuk mengetahui kehidupan di sana setelah Lesten diterjang banjir bandang pada tahun 2006 lalu.Belum ada data rinci tentang apa yang terjadi setelah banjir itu karena medan yang sulit.

Abu Kari meminta empat warga Pining ikut serta. Mereka adalah Sulaiman (mantan geuchik Pining), Salim (lelaki berkulit gelap dan bertubuh kekar), Jamin (guru honorer di Sekolah Dasar Negeri 8 Lesten), dan Abdullah Syafii (keturunan Datuk Pining, seorang ulama yang dihormati, yang pertama sekali membuka Lesten menjadi pemukiman). Tim dari BPKEL berjumlah empat orang yang terdiri dari wartawan, dua orang dari lembaga swadaya masyarakat dan seorang fotografer.

Memilih Abu Kari jadi pemandu sungguh pilihan yang tepat. Warga Pining tak menaruh curiga kepada tim ini. Akses dengan mudah didapat dan warga pun suka rela menceritakan banyak hal yang terjadi di wilayahnya, termasuk tentang jalur transportasi ganja dari Pining yang dibawa ke Pulo Tiga, Aceh Tamiang lewat hutan.

Pining juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ganja di Aceh.Kalau Anda datang ke Pining, Anda akan mencium aroma ganja di warung-warung yang Anda singgahi. Para remaja mengisap ganja di tempat-tempat terbuka dan itu hal biasa. Di Lesten, ganja dengan mudah diperoleh dari warga.

Subahan , seorang anggota lembaga swadaya yang ikut tim BPKEL, merasa heran dan terkejut saat melihat potongan daun ganja tercecer di sebuah warung di Pining. Seorang warga Pining yang menyaksikan keheranan Subahan tersenyum, lalu berkata, "Barang seperti itu dengan mudah dapat ditemui di sini.”

Saat memasuki wilayah Pining, Anda akan menyaksikan sebagian besar warga Pining memakai kendaraan roda dua keluaran mutakhir dari berbagai merek.

Menurut Arilsyah, kebanyakan pemuda Pining pengangguran, tapi mereka mampu membeli kendaraan baru dari Medan. Uang mereka berasal dari hasil berdagang ganja. Arilsyah berusia 12 tahun. Dia masih belajar di sekolah menengah pertama dan ikut menemani tim BPKEL

Dalam perjalanan meninggalkan Lesten nanti, saya melihat serombongan lelaki dewasa. Mereka berjumlah tujuh orang dan berjalan beriringan. Mereka memanggul beban yang dibungkus rapi dalam karung plastik yang dijahit. Mereka kurir ganja yang membawa ganja ke Pulo Tiga, Aceh Tamiang. Para kurir ini akan menerima Rp.80 ribu untuk tiap kilogram ganja. Seorang kurir biasa membawa 25 sampai 30 kilogram ganja. Di Pulo Tiga sudah ada agen yang akan memasarkan ganja itu.


PAGI Rabu, 28 Mei 2008, rombongan bergerak menuju Lesten. Menjelang siang, rombongan yang dipimpin Abu Kari ini bertemu dengan warga Lesten yang menuju Pining untuk berbelanja.

Dalam rombongan itu terlihat Aji, anak berusia empat tahun, yang berjalan tanpa alas kaki. Dia menemani ibunya, Murni, yang menggendong adik Aji, Alisaputra. Kaki Aji penuh lumpur. Di punggungnya, dia memanggul karung plastik.

Aji sedikit takut melihat kamera. Langkahnya sempat terhenti, tapi kemudian dia berjalan sambil sesekali melihat ke belakang, memandangi rombongan.

Ternyata bukan Aji, adik, dan ibunya saja yang berjalan kaki ke Pining. Tim BPKEL juga bertemu dua bocah perempuan dan ibunya. Kedua anak perempuan ini juga berjalan tanpa alas kaki. Kaki-kaki mereka belepotan Lumpur. Bagi kebanyakan warga Pining dan Lesten, pemandangan tersebut biasa saja.

Namun, Fauzi Ramadan, fotografer dalam tim ini, terkesima melihat kenyataan di hadapannya. "Bagaimana mungkin anak empat tahun berjalan 22 kilometer," katanya.

Rombongan pun bermalam di Telege, sebuah perkampungan baru di tengah perjalanan dari Pining ke Lesten. Di Telege, 15 kepala keluarga asal Lesten membuka lahan baru. Mereka menganggap Lesten terlalu jauh dari Pining dan tidak selamanya mereka bisa bertahan dengan kondisi jalan yang buruk dan biaya kebutuhan pokok yang mahal, sementara penghasilan tidak seberapa dari hasil berjualan coklat dan minyak nilam.

Dua orang porter (pengangkut barang), Sulaiman dan Salim adalah dua pemilik rumah di Telege yang dibangun Pemerintah Kabupaten Gayo Lues dari program transmigrasi lokal. Sebagian rumah baru selesai rangkanya. Meski berada di tengah hutan, namun rumah di Telege punya listrik yang bersumber dari tenaga surya. Tenaga surya ini menjadi sumber listrik warga Telege juga Lesten.

Menurut Sulaiman, sebelum tahun 2000, Lesten mulai ramai dan terbuka karena dari seberang sungai Lesten ke arah Aceh Timur beroperasi sebuah perusahaan penebangan kayu milik seorang keturunan Tionghoa.

"Saat itu kenderaan roda dua sudah banyak di Lesten. Bahkan kami berbelanja dan membawa kebutuhan sembako (sembilan kebutuhan pokok, termasuk beras) dari Aceh Timur," kata Sulaiman. Perusahaan itu membuat jalan yang lebar untuk mengangkut kayu dan mendirikan barak pekerja dan perkantoran, tidak jauh dari Lesten.

Tapi saat konflik di Aceh mengganas, perusahaan tadi menutup usahanya. Akhirnya Lesten kembali tertutup dari dunia luar. Kendaraan milik warga Lesten pun dibawa keluar Lesten, terutama ke Pining.

Abu Kari masih mengenang masa-masa itu. Kenangannya lagi-lagi berkaitan dengan alam Lesten.

"Sungai Lesten adalah hulu sungai Tamiang yang dipakai sebagai sumber air bersih dua kabupaten di Pesisir. Tamiang dan Langsa," katanya. "Dahulu saya sering duduk berjam-jam di sungai Lesten. Di atas batu. Dari sana kita dengan mudah melihat rusa minum. Ikan dengan mudah dipancing," kisahnya.

Kini sungai Lesten sudah tercemar. Sungai ini penuh pasir, bebatuan dan gelondongan kayu yang dibawa banjir banding, sehingga sulit mendapatkan ikan setempat seperti ikan pedih.

“Kalau saya mau dalam dua jam saya bisa mengontak pengusaha HPH (Hak Penebangan Hutan) yang akan membuka lahan sawit di Lesten. Tapi bukankah hal ini akan merusak hutan Lesten yang selama ini lestari. Akibatnya nanti tentu saja Tamiang menjadi sering banjir, karena hulu sungai Tamiang dari Lesten," kata Abu Kari.

Dia punya kekhawatiran lain yang tak kalah penting. Pasalnya, sejak banjir bandang yang menghantam Pining dua tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2006, 90 persen sawah warga hancur. Sawah-sawah ini belum direhabilitasi. Warga Pining pun mulai merambah hutan untuk dijadikan kebun.

Dia tidak bisa menghalangi tindakan warga dengan tegas, karena mereka harus menghidupi keluarga. Untuk itu dia berharap agar pemerintah kabupaten atau pemerintah Aceh segera merehabilitasi sawah warga Pining demi menjaga kelestarian hutan Pining.

Dulu Abu Kari tak punya sepotong surat pun yang menjelaskan pekerjaannya sebagai relawan penyelamat lingkungan. Kini dia memperolehnya dari kepala kampung, camat, dan bahkan BPKEL. Surat itu membuatnya lebih punya dasar hukum dalam bertindak.***


*) Win Ruhdi Bathin adalah Kontributor Pantau Aceh Feature Service di Takengon.
Dia juga bekerja sebagai wartawan Rakyat Aceh di Aceh

kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter