BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Abadi dalam Foto
Ajianto Dwi Nugroho
Mon, 2 July 2001
SENIN 27 September 1999, telepon sebuah rumah di Jl. Plawa 104, Denpasar, berdering. Lina Sri Rejeki mengangkat gagang telepon.
SENIN 27 September 1999, telepon sebuah rumah di Jl. Plawa 104, Denpasar, berdering. Lina Sri Rejeki mengangkat gagang telepon.

”Halo? Apakah ini rumah Agus? Agus Mulyawan?”

Lina mengiyakan.

”Agus meninggal!”

Tubuh Lina gemetar, lemas dan melepaskan gagang telepon.

Suara di ujung telepon itu milik Yeni Rosa Damayanti, aktivis hak asasi manusia dari Jakarta, yang bekerja mewakili Solidaritas untuk Penyelesaian Damai Timor Leste di Dili, ibukota Timor Timur.

Lina adalah ibu Agus Mulyawan, Agus yang belajar memotret dan bekerja freelance buat Asia Press saat penyelenggaraan jajak pendapat di Timor Timur sekitar dua minggu sebelumnya.

Yeni mengenal Agus dan mendapat kabar kematian Agus sehari sebelumnya. Yeni diberitahu Taur Matan Ruak, komandan Forcas Armadas da Libertacao Nacional de Timor Leste atau kalau diterjemahkan artinya tentara pembebasan nasional Timor Timur dan biasa disingkat Falintil.

Taur Matan Ruak mengatakan Agus Mulyawan dibunuh milisi Timor Timur dan mayatnya ditemukan di dasar sungai Verukoco, Apikuru, kabupaten Lautem, pada hari Minggu 26 September 1999. Mayatnya ditemukan bersama delapan mayat lain.

Penemuan mayat terjadi secara kebetulan. Mayat-mayat yang mulai rusak itu ditemukan penduduk setempat yang sedang menghindari milisi. Sebagian ada yang lari ke hutan tapi ada juga yang nekat terjun ke sungai Verukoco. “Yang terjun inilah yang melihat mayat di dalam sungai,” ujar pemuda setempat Joao da Costa ketika bertemu dengan saya bulan April lalu. Da Costa mengatakan ia ikut mengangkat mayat-mayat itu.

Kabar penemuan mayat itu segera tersebar. Hari itu juga serombongan pemuda memberanikan diri menuruni sungai. Namun keadaan tidak memungkinkan. Mereka gagal mengangkat mayat-mayat itu dari dalam air. Baru jam enam pagi, esok harinya, mereka bisa mengangkat semua mayat.

“Mayat yang kita angkat pertama mayat Agus,” cerita da Costa. Mereka tahu nama Agus Mulyawan dari kartu pers yang masih tersemat di tubuhnya. Agus ditemukan di samping mobil yang tenggelam di dasar sungai Verukoco.

Celeste de Calvalho, seorang suster Katolik keturunan Italia dari ordo Canossian, yang berkantor di Baucau dan Titi Sandora da Lopez, seorang penduduk Timor warga Lospalos, ditemukan di bawah rongsokan mobil. Yang lainnya ditemukan di dalam mobil dengan tubuh berlubang bekas tembakan. Penemuan mayat-mayat itu jadi awal rangkaian terkuaknya kasus pembunuhan ini.


PASTOR Martinho Lopez adalah seorang biarawan Timor yang bertugas di Baucau, sebuah kota sejuk, dua jam perjalanan mobil ke arah timur Dili. Dia sempat bertemu Agus. Pemuda Indonesia ini ditemui Pastor Martinho sedang bersama dengan rombongan biarawati dan tiga calon pastor di pos Samalai, sebuah pos penjagaan milik Falintil Region-3, sekitar 25 kilometer dari Baucau.

Rombongan biarawati itu sedang memberikan bantuan obat-obatan di Samalai. Agus merasa bosan di Samalai dan ingin melakukan peliputan di daerah lainnya. Bersama rombongan biarawati ini Agus menumpang mobil turun ke Baucau.

Di kota sejuk itu, Agus menginap di rumah Pastor Martinho dalam lingkungan gereja Baucau. Para biarawati menuju ke Lospalos. Seminggu kemudian rombongan biarawati kembali ke gereja Baucau. Hari Sabtu itu, 25 September 1999, mereka hendak mengunjungi kamp pengungsian di pelabuhan Qom, 40 kilometer sebelah timur Baucau, guna memberikan bantuan makanan dan obat-obatan bagi pengungsi di sana. Agus ingin mengikuti rombongan itu.

Pastor Martinho melarang.

”Kamu di sini saja, keadaan di luar sangat berbahaya.”

Tapi Agus bersikeras. Dia pun pergi ke Qom dengan menumpang sebuah Toyota Kijang warna abu-abu. Sebelum tiba di pelabuhan Qom, rombongan mampir ke penginapan biarawati ordo Canossian di kota Lospalos, untuk melengkapi persediaan obat-obatan. Hanya sekitar 30 menit mereka mampir. Saat memasuki pelabuhan Qom, jalan menuju kamp pengungsian ternyata diblokir milisi. Para biarawati memutuskan pulang ke pastoran Baucau ketimbang repot.

Namun, nasib sial menghadang mereka. Di perjalanan pulang, rombongan dicegat milisi Tim Alfa, sebuah kelompok rakyat terlatih, binaan tentara Indonesia, yang dipimpin Joni Marques. Tim Alfa biasanya beroperasi di sekitar Lospalos hingga perbatasan Baucau.

Tim Alfa adalah salah satu dari sejumlah organisasi milisi yang pembentukannya disponsori oleh tentara Indonesia. Kehadiran mereka jadi menyolok menjelang jajak pendapat untuk menentukan nasib Timor Timur yang diadakan Perserikatan Bangsa-bangsa pada 4 September 1999.

Sekitar pukul tiga sore, beberapa saat sebelum Toyota Kijang rombongan biarawati itu bertemu dengan Tim Alfa, Marques memperoleh kabar, ada rombongan biarawati menuju Qom untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi.

Bagi Marques dan kawan-kawannya, bantuan kemanusiaan dari gereja Katolik, kurang lebih sama dengan bantuan buat orang-orang yang anti Indonesia. Suasana politik sangat panas. Dua minggu sebelumnya, hampir 80 persen rakyat Timor Timur memilih menolak tawaran otonomi yang ditawarkan Presiden B.J. Habibie. Ini artinya Timor Timur bakal lepas dari Indonesia. Marques merasa lebih baik Timor Timur tetap bersama Indonesia.

Marques pun memerintahkan pencegatan. Dengan sebuah mobil Taft warna merah, Marques bersama anggota milisi lainnya, Joao da Costa dan David da Silva, ia menuju Qom.
Di tengah jalan mereka bertemu Manuel da Costa, komandan peleton Tim Alfa beserta tiga anak buahnya: David, Ernesto Pereira dan Gilbarto da Costa. Mereka bertujuh bergerak menuju Qom (Joao da Costa anggota milisi ini sama sekali tak ada hubungan darah dengan pemuda Joao da Costa yang saya temui bulan April lalu).

Di tempat yang ditetapkan sebagai lokasi pencegatan, mereka bertemu dengan tiga milisi Tim Alfa: Horacio da Silva, Ilario da Costa serta Goncalo dos Santos. Ketiga milisi ini menangkap dua pemuda Timor yang sedang mendorong gerobak. Horacio mengikat seorang di pohon. Seorang yang lainnya dipaksa ikut dalam aksi pencegatan.

Marques telah mengatur semuanya. David dan Gilbarto da Costa berjaga di sebelah barat arah sungai. Dua orang lagi di sebelah timur yang kurang lebih jaraknya sama. Beberapa milisi diperintahkannya bersembunyi di got pinggir jalan.

Sementara Marques sendiri, beserta Manuel da Costa dan Joao da Costa, berdiri di tengah jalan. Marques memang disegani para anak buahnya. Apa yang diperintahkannya, selalu dipatuhi.

Sekitar lima menit kemudian ada sebuah mobil rombongan biarawati yang lewat. Entah mengapa rombongan ini dibiarkan lewat. Tapi 15 menit berikutnya mobil kedua, Toyota Kijang yang ditumpangi rombongan biarawati dan Agus Mulyawan melintas.

Marques, Manuel da Costa, dan Joao da Costa mencegat mobil itu.

”Berhenti!”

Manuel da Costa mengarahkan senjata laras panjang SKS ke orang-orang yang berada di dalam mobil. Mobil berhenti. Da Costa minta rombongan ke luar mobil. Tapi rombongan menolak. Mereka takut dan gugup. Senjata diarahkan pada sopir Herminio Rudy Barreto. Situasi tegang dan ada kata-kata keras yang terucap. Da Costa marah dan picu pun ditarik. Namun, senjata Manuel da Costa mendadak macet.

Joni Marques dengan cepat mengambil alih. Ia mengangkat senapan SKS miliknya. Diarahkan pada Barreto. Sejurus kemudian, ia menembak. Pemuda asal Baucau itu roboh berlumuran darah. Tembakan Marques bak perintah bagi kelompok milisi. Joao da Costa yang berdiri tidak jauh langsung memberondongkan senapannya ke arah Toyota Kijang. Kaca mobil hancur berkeping-keping. Lubang-lubang tercipta di tubuh mobil, tak sanggup melindungi para penumpangnya. Darah muncrat ke mana-mana.

Milisi yang bersembunyi di lubang got pun keluar, mengambil bensin dan membakar mobil tersebut. Ternyata tidak semua anggota rombongan langsung tewas tertembak dalam mobil. Seorang biarawati sempat keluar dari mobil. Masih ada yang hidup. Horacio da Silva dan Goncalo dos Santos meraih tubuh wanita itu dan mendorongnya ke tebing sungai.

Marques kemudian mengarahkan tembakan ke tubuh suster itu. “Tidak tahu kena atau tidak?” pikirnya. Untuk menghilangkan jejak, mereka ramai-ramai mendorong mobil yang sudah dibakar dan membuang mayat-mayat ke sungai Verukoco.

Tak ada saksi mata selain gerombolan Marques. Sembilan orang tewas.

Agus Mulyawan. Suster Celeste de Calvalho dan Suster Ermenia Cazzaniga dari Italia. Tiga calon pastor dari ordo Canossian Manatuto: Frater Jacinto Fransisco Xavier, Frater Fernando dos Santos, Frater Valerio da Concecao. Sopir rombongan Herminio Rudy Barreto. Titi Sandora da Lopez yang dulu pernah kuliah di Semarang.

Pemuda dusun pendorong gerobak yang diikat di pohon juga dihabisi. Beruntung pemuda satunya diam-diam melarikan diri.

Sesudah mendorong mobil, Marques dan rombongannya melakukan patroli di sekitar Lautem hingga pelabuhan Qom. Mereka sempat melakukan kontak senjata dengan pasukan Falintil. Terjadi baku tembak, tapi tak diketahui apakah ada yang luka.


KEMATIAN Agus Mulyawan menyentak bukan saja Taur Matan Ruak, Yeni Rosa Damayanti atau Lina Sri Rejeki, tapi juga dunia jurnalisme Indonesia. Namun tak banyak wartawan yang kenal Agus. “Siapa sih Agus?” adalah pertanyaan yang sering terdengar. Ketika meninggal Agus memang relatif masih baru dalam dunia jurnalisme Indonesia. Ia baru berumur 26 tahun. Prestasinya juga masih pendek.

Agus lahir di Bali 15 Agustus 1973. Ia anak ketiga pasangan keluarga Indonesian keturunan Tionghoa, Adyana Karya dan Lina Sri Rejeki. Ibunya dari marga Liem, sedangkan ayahnya dari marga Ang. Agus anak ketiga dari empat bersaudara. Di kalangan keluarga dekatnya ia juga dikenal sebagai Ang Hong Chen.

Pada hari kematian Agus, Lina mendapat firasat yang kurang baik, “Saya tiba-tiba melihat bayangan Agus di depan muka saya. Dia berdiri di samping peti kosong, lalu melambaikan tangannya.”

Ketika saya temui di Denpasar, sambil mengalirkan air mata, Lina cerita ketika kecil Agus tidak suka aneh-aneh. Dia tidak banyak meminta. Paling-paling hanya minta dibuatkan roti bakar. Anak yang rajin belajar.

Saat lulus sekolah menengah pada 1992, Agus melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saya mengenal Agus di sana karena saya juga kuliah di kampus itu. Teman-teman kami banyak yang kaget ketika tahu Agus meninggal. Kami tak menyangka Agus tertarik pada fotografi. Apalagi memotret di Timor Timur.

Awal kuliah, ia giat berdagang lewat sebuah jaringan muiltilevel marketing. Jadual kuliahnya sangat teratur. Kuliah pagi hari, sore latihan binaraga dan malam jam sembilan tidur. Menurut Ketut Suratama, temannya kuliah, Agus sangat ambisius. ”Karena mau pintar bahasa Jepang, dia pacari sekalian temannya orang Jepang itu,” katanya sambil tertawa.

Di perguruan tinggi, prestasi Agus cukup menonjol. Ia pernah mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Jepang pada 1994. Sepulang dari Jepang, ia mendirikan lembaga swadaya masyarakat bidang pertanian di daerah Bantul, Yogyakarta, bekerja sama dengan sebuah organisasi Jepang. Ketika mahasiswa Yogyakarta turun berdemonstrasi ke jalan memprotes rezim Presiden Soeharto, Agus sebenarnya rajin mengambil foto mereka. Karya ini yang antara lain mengantarnya ke Asia Press, yang berpusat di Tokyo.

Pada awal Maret 1999, Agus berangkat ke Timor Timur, menerima penugasan kantornya, Asia Press. Ia datang bersama Watai Watanabe, wartawan Jepang, rekan kerjanya. Di Dili, mereka menginap di Hotel Mahkota, sebuah hotel yang terletak di depan pelabuhan Dili.

Tapi beberapa waktu kemudian Mario Carnellas alias Nono, seorang aktivis Timor Timur yang bekerja di Yayasan Hak, sebuah lembaga pembelaan hak asasi manusia yang berkantor di Dili, menawarkan Agus tinggal di rumahnya di kawasan Vilaverde, Dili.

”Hotel itu kurang aman, sering diawasi intel,” kata Agus, seperti ditirukan Nono.

Sebagai wartawan Agus termasuk berani. Suatu kali, saat sebuah kantor organisasi hak asasi manusia dibakar, ia tenang memotret peristiwa itu.

Yeni Rosa Damayanti, aktivis yang berteman dengan Agus, mengatakan Agus tak segan mengulurkan tangan buat proses jajak pendapat di Timor Timur. ”Dia membantu kami dalam pelatihan foto untuk pemantau referendum di Timor Timur,” ujar Yeni.

Jika tidak ada liputan, waktunya banyak dihabiskan di Vilaverde. Agus sering mengundang warga setempat untuk mengobrol. Leimeta Carnellas, ibu pemilik rumah itu mengenang Agus sebagai lelaki yang baik hati. “Dia juga sering memberi obat-obatan,” ujar Leimeta.

Agus meninggalkan rumah keluarga Carnellas pada 28 Agustus 1999. Ia menuju markas besar Falintil di Waimuri, Viqueque, mengabadikan upacara peringatan ulang tahun pasukan gerilyawan itu pada 30 Agustus 1999.

Waimuri adalah pusat kegiatan Falintil dari empat region di Timor Timur. Region-1 meliputi wilayah Lospalos hingga perbatasan Viqueque. Region-2 meliputi sebagian wilayah Viqueque hingga perbatasan Manatuto. Region-3 meliputi wilayah perbatasan Manatuto hingga perbatasan Ainaro dan Dili hingga perbatasan Ermera. Region-4 meliputi wilayah Liquisa, Bobonaro, Suai dan Waikusi. Komandan seluruh region dipegang Taur Matan Ruak.

Agus ke Waimuri tidak sendirian. Nono dan Watanabe bersamanya. Namun, di Waimuri, Agus mendadak sakit dan harus beristirahat. Watanabe meninggalkan Waimuri pada 3 September 1999, ke Dili dan terbang ke Denpasar. Agus melanjutkan pemotretannya sendiri. Mungkin saat itu ia satu-satunya wartawan yang berada di tengah-tengah gerilyawan Falintil ketika referendum diadakan. Ketika kebanyakan wartawan, asing maupun Indonesia, sibuk bekerja di Dili dan kota-kota besar lain, Agus justru menyepi di tengah hutan bersama gerilyawan.

”Dia sangat dekat dengan Pak Taur,” ujar Falur Rate Laek, salah satu komandan senior Falintil.

Setelah satu minggu di markas besar Falintil, Agus ingin melengkapi liputannya di Region-3. Awalnya menegangkan. Agus sempat dicegat sekelompok Falintil di pos Samalai. Agus berusaha meyakinkan para aktivis bawah tanah yang menghadangnya, bahwa ia seorang wartawan Indonesia, dan tidak setiap wartawan Indonesia adalah musuh.

Ia diperiksa. Tubuh dan tasnya digeledah dan akhirnya dibiarkan memasuki markas. Rupanya pendekatannya menyakinkan. Ia bahkan mendapat tempat istimewa di sana. ”Saya buatkan tempat tidur dari bambu buatnya,” Jorge Avelino Gusmao, seorang anggota Falintil, mengenang pertemuannya dengan Agus.

Liputan dan pemotretan markas di Region-3 dilakukan Agus selama berhari-hari.

”Kalau lapar, saya ajak dia berburu babi hutan atau mancing ikan di sungai,” ujar Falur Rate Laek.

Jika liputannya berada di luar hutan maka ada gerilyawan yang menemaninya. Agus rajin juga mencatat setiap kegiatan di buku hariannya. Falur mengatakan cara Agus bertanya “seperti interogasi.”

Pada 11 September 1999 Agus menulis, ”Ada dua puluh pasukan truk tentara Indonesia tiba. Ini membuat Falintil siap-siap, lampu-lampu semua dibongkar, kabel digulung. Situasi bertambah panas.”

Di luar kesibukan menulis buku harian, Agus banyak menceritakan pengalamannya pada para anggota Falintil. Ia memang termasuk orang yang gampang menyesuaikan diri. Dekat dengan siapa saja. Tidak hanya dekat dengan komandan Falur Rare Laek, tetapi juga para anak buah Falur.

Suatu malam, Agus ingin jalan-jalan tetapi ia jatuh tersandung batu.”Saya sering menuntunnya kalau malam hari,” cerita Jorge Gusmao. Maklum, mata Agus memang minus. Ia memakai lensa kontak minus 13.

”Agus juga sering mengajari saya bagaimana seharusnya berpolitik dengan baik,” ungkap Falur Rare Laek.


TANGGAL 4 September 1999 hari bersejarah bagi rakyat Timor Timur. Saat itu jajak pendapat diumumkan. Pro kemerdekaan menang. Kekalahan membuat milisi dan tentara Indonesia gusar. Kerusuhan terjadi di mana-mana, banyak jalan diblokir.

Agus Mulyawan tidak bisa mengirim berita. Ia ingin sekali keluar dari hutan dan menyaksikan langsung kerusuhan di kota-kota. Sementara berita dan hasil pemotretan menumpuk. Naluri jurnalistik mendorongnya turun ke pos Samalai. Ia diantar Jorge Avelino Gusmao. Selepas pos itu, tentara Indonesia menyerang, Agus hampir tertembak dan lari terbirit-birit.

Hingga tibalah rombongan biarawati itu ke pos Samalai. Tujuan mereka ke Baucau. Rencananya akan memberikan bantuan makanan dan obat-obatan. Agus pun ikut karena sudah banyak bahan liputan yang harus dikirim ke Asia Press. ”Aku harus ikut mereka agar bisa mengirimkan berita dari Baucau,” ujar Agus, seperti ditirukan Jorge Gusmao.

Jorge Gusmao, yang ditugasi mengawal Agus, tak bisa mencegah kendati komandannya, Falur Rate Laek, sudah memberi perintah agar Agus tidak dibiarkan keluar dari wilayah Region-3, karena di luar situasinya sangat gawat.

Bersama rombongan biarawati itu, sampailah Agus di gereja Baucau. Rencana rombongan itu sebenarnya hanya sebentar di Baucau. Tujuan utamanya kembali ke pusat pengungsian di pelabuhan Qom. Pada 19 September 1999, Agus berada Baucau.

Agus tinggal di pastoran Baucau karena lebih aman.Di sekitar kota sangat kacau. Suara tembakan selalu terdengar setiap hari. Seperti manusia biasa umumnya, Agus juga gelisah dan takut. Menurut Nonaka Akimura dari Asia Press, Agus menelpon dua kali kepadanya. Pada 22 dan 24 September 1999. Agus mengabarkan bahwa ia ada di Baucau.

“Ia sebenarnya ingin pulang ke Bali lewat Dili, tetapi keadaan kacau dan pesawat ke Denpasar sulit didapat,” cerita Nonaka Akimura.

Agus mengirim hasil pemotretan pengungsi di Baucau dan akan menelpon kembali esok harinya. ”Saya menghubungi esoknya, tetapi tak ada jawaban,” ungkap Nonaka Akimura.

Pada 25 September 1999 tibalah rombongan kemanusiaan itu di Baucau. Agus memutuskan ikut rombongan biarawarti itu ke pelabuhan Qom, kendati Pastor Martinho Lopez sedang mengurus pemberangkatannya ke Bali lewat Darwin, Australia.

Dari bandar udara Baucau ke Darwin hanya dibutuhkan waktu 45 menit.

Pilihannya mengikuti rombongan biarawati dan calon pastor itu membawanya bertemu Joni Marques dan kematian. Itu mungkin pilihan yang salah. Agus mungkin hanya mengikuti naluri jurnalistiknya untuk terus mencari apa yang ingin ia dapatkan. Kematian adalah risiko.


JENASAH sembilan korban itu hendak dikuburkan di Baucau. Tapi pihak gereja misi Fuilloro Don Bosco, Lospalos, minta agar jenasah-jenasah itu dikubur di kompleks gereja itu. Upacara penguburan dilakukan pada 27 September 1999, dengan tata cara Katolik. Misa Requiem, misa untuk mengenang para arwah, dilakukan di tempat kejadian. Kemudian dilakukan arak-arakan dengan berjalan kaki menuju gereja. Jenasah-jenasah dinaikkan truk yang khusus didatangkan dari Lospalos.

Penduduk setempat dan sepasukan Falintil Region-1 mengikuti arak-arakan itu. Di Apikuru, tempat kejadian, ditancapkan salib kayu, ini sebagai simbol untuk membuang sial. Orang Timor percaya pembunuhan para calon pastor ini merupakan kutukan. Dengan memancangkan kayu salib, kutukan itu dipercayai akan hilang.

Jam tiga sore arak-arakan sampai di gereja. Penggalian kuburan sudah dilakukan satu jam sebelum arak-arakan tiba. Sesampai di gereja kembali diadakan Misa Requiem. Pemberkatan untuk orang meninggal selesai, satu persatu mayat diangkat ke dalam kuburan. Semua mayat sudah membusuk dengan kulit yang terkelupas.Mayat-mayat itu dibungkus plastik dan dilapisi kain putih. Sebenarnya sudah disiapkan peti mati, tetapi karena mayat-mayat sudah membengkak, peti-peti tidak cukup.

Setelah semua dimakamkan, penduduk Lospalos menaburkan kulit jagung di sekitar makam itu. Supaya bau busuk tidak menyengat. Ada delapan mayat yang dikubur di sana. Sementara satu mayat lagi tak ditemukan hingga sekarang.

Bulan April lalu, ketika saya ke sana, mayat-mayat itu satu persatu sudah diambil keluarganya. Di kuburan itu hanya tinggal tiga kuburan. Makam atas nama Frater Fernando, Frater Valerio dan Agus Mulyawan. Tiga makam itu dipagari kayu yang sudah mulai lapuk. Jika dilihat dari depan halaman gereja, makam Agus berada paling kanan, di tengah Frater Valerio, dan di kiri Frater Fernando.

Gereja mengizinkan jenasah Agus dibawa ke Bali. Namun, keluarga Agus, terutama ibunya, merelakan anaknya dikubur di Timor. Di Bali keluarga Agus melakukan upacara kematian yang dilangsungkan secara simbolik. Adyana Karya, ayah Agus, melakukan ritual kematian dengan tatacara Budha. Ia menyiapkan peti kosong lalu membakarnya. Rekan-rekan kerja Agus dari Jepang datang ke Bali untuk mengikuti ritual kematian simbolik itu.


UPACARA penguburan Agus dan rombongan misi kemanusiaan itu, tak banyak diliput pers. Mungkin peristiwa itu tak terasa penting di tengah hiruk pikuk Timor Timur yang penuh dengan ketegangan politik internasional, kekerasan, pembakaran dan pengungsian. Kantor harian Suara Timor Timur dibakar 5 September 1999. Para wartawan asing juga sudah meninggalkan wilayah itu seminggu setelah pengumuman jajak pendapat. “Saya menarik kru saya sebelum pembunuhan Agus,” ujar Albert Kuhon dari SCTV.

Informasi tentang kematian itu juga simpang siur. Wartawan Kompas Rien Kuntari menulis berita kematian Agus pada 30 September 1999. Bali Pos juga menurunkan pada hari yang sama. Rico Aditjondro dari Southeast Asian Press Alliance mengatakan bahwa di Darwin, Australia, berita kematian Agus kurang banyak ditanggapi. Tapi sebaliknya, kematian Sanders Thoenes, wartawan Financial Times asal Belanda, publikasinya jauh lebih luas. Untungnya, di Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen mengirimkan tim buat membantu memulangkan jenasah Agus. Tapi karena orang tuanya merelakan Agus dikubur di Lospalos, niat itu diurungkan.

Marques dan belasan milisi ditangkap akhir September 1999, oleh pasukan Interfet, pasukan multinasional yang mengambilalih keamanan Timor Timur dari pasukan Indonesia. Marques dan anak buahnya, rupanya mendapat kabar yang terlambat bahwa di hari-hari itu, semua pasukan Indonesia, berikut kelompok-kelompok milisi harus keluar dari wilayah itu. Pasukan Interfet pimpinan Jendral Peter Cosgrove akan datang. Marques tak sempat membawa pasukannya melintasi perbatasan. Mereka berpencar tapi gagal bersembunyi.

Marques ditangkap 31 November 1999. Teman-temannya ditangkap berurutan dari 25 Oktober 1999 hingga awal Agustus 2000. Mereka kini ditahan penguasa transisi Timor Timur, United Nation Transitional Administration in East Timor (Untaet). Penahanannya di bawah tanggungjawab Serious Crime, sebuah badan hukum di bawah pengadilan bentukan Untaet.

Di bawah lembaga yang menangani kejahatan-kejahatan berat ini, Marques jadi sulit diwawancarai. Berbagai macam cara saya lakukan untuk menemuinya di penjara Becora, Dili, namun selalu ditolak petugas penjara. Marques tidak boleh diwawancarai. Hakim pengadilan distrik Dili, Rui Pereira, sarjana hukum lulusan sebuah universitas di Indonesia, yang pernah menangangi kasus Marques, juga tak sanggup menolong mempertemukan saya dengan Marques.

Begitu pula Cancio Xavier, salah seorang pengacara Marques. Xavier hanya bisa memberi berita acara pemeriksaan kasus pembunuhan itu. Dari bahan itu, maupun wawancara dengan berbagai sumber di Dili, Baucau, Lautem, maupun tempat pembunuhan, saya bisa membuat rekonstruksi peristiwa itu.

Pada Mei 2001 kasus pembunuhan berat ini dialihkan ke hakim Maria Lopes. Lima pengacara menangani kasus ini. Kasus Marques kini tengah disidangkan di pengadilan distrik Dili. Hakim Pereira yang dulu menangani kasus ini mengatakan, Marques dan kawan-kawan bisa dijatuhi hukuman hingga 25 tahun penjara.

Menurut pengacara Cancio Xavier, selain para milisi itu, dalam daftar tersangka Serious Crime ada sebuah nama tentara Indonesia, Sersan Syaiful Anwar, dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia yang bertugas di Lospalos.

Kecurigaan keterlibatan tentara Indonesia dalam pembunuhan ini juga diungkapkan Komisi Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia untuk Timor Timur. Namun, tim penyelidik ini tidak menyebutkan nama-nama.

Marques menyebutkan nama-nama itu.

Menurutnya, perencanaan gerakan Tim Alfa dilakukan pada 3 September 1999 di markas Kopassus, Lospalos. Pertemuan itu dihadiri Sersan Syaiful Anwar, seorang letnan, beberapa sersan Kopassus, dan beberapa anggota Tim Alfa.

Di Indonesia kematian Agus, maupun karya-karyanya, yang sebagian tak banyak dipublikasikan, kurang dibicarakan orang. Tapi di Dili, ada sebuah jalan dinamakan Avenida da Liberdade de Imprensa. Artinya jalan kebebasan pers.

Peresmian nama itu dilakukan pada 3 Mei 2000 –hari kebebasan pers sedunia. Nama itu diresmikan untuk menghormati kematian para wartawan yang terbunuh di Timor Timur. Diantaranya lima wartawan Australia dan Selandia Baru yang tewas di Balibo 16 Oktober 1975 ketika pasukan Indonesia masuk kota itu. Roger East tewas ketika pasukan Indonesia menyerbu Dili 7 Desember 1975. Bedinho Guterres, reporter Radio Matebian dan suratkabar Vox Populi, meninggal di Dili 26 Agustus 1999. Sanders Thoenes, reporter Financial Times, mati tertembak di Dili, 21 September 1999. Dan Agus Mulyawan, wartawan Indonesia, mati tertembak 26 September 1999.

Banyak yang merasa kehilangan Agus. ”Seandainya saya di Samalai, pasti saya larang dia turun ke Baucau,” ujar Falur Rate Laek.

Banyak anggota Falintil gusar mendengar berita sedih itu. Eli Foho Rai Bo’ot yang nama aslinya Cornelio Gama, wakil komandan Region-3, marah mendengar berita itu.

“Ia telah memberikan yang terbaik buat Timor,” ujar Pastor Martinho.

Kematian tak bisa ditolak. Semua telah terjadi. Agus Mulyawan telah pergi. Tak ada yang tahu untuk siapa dia pergi. Barangkali kita juga tidak butuh jawaban itu. *
kembali keatas
Kursus Narasi XVII
FacebookTwitter